Rabu, 17 Desember 2014

PENGKAJIAN BAHASA YANG BAIK




FILSAFAT BAHASA

PENGKAJIAN BAHASA YANG BAIK
 


DOSEN PENGAMPU :
NORMASUNAH, S.Pd

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1.      IIN NURSANTI               NIM 2012.12.0926
2.      IRMA JULAEHA            NIM 2012.12.0924
3.      JAMI RAHAYU               NIM 2012.12.0919 
4.      KAMARULLAH             NIM 2012.12.0913
5.      MAYASARI                      NIM 2012.12.0923

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PARIS BARANTAI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
KOTABARU
2014

 


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Filsafat Bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari.
Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa.
Di dalam bab ini akan dibahas persoalan menyangkut kemampuan bahasa. Dari sesuatu segi tertentu dapat dikatakan bahwa pembicaraan ini ialah tentang martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan martabat bahasa ialah tinggi atau rendahnya derajad bahasa di mata para pemakainya atau di mata orang asing, banyak atau sedikitnya rasa hormat yang diberikan orang terhadapnya.
Bagaikan seorang manusia, bahasa itu sering dikatakan mempunyai wibawa yang tinggi atau derajad yang rendah saja. Bagaikan sesuatu harta kekayaan bahasa itu sering dikatakan mempunyai nilai yag tinggi atau nilai yang rendah saja.

B.     RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam pembahasan ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan kaya dalam system tulis?
2.      Dimana saja tingkat pembakuan pada system tulis dan ucapan itu diperlukan?




C.    TUJUAN MASALAH
Adapun tujuan masalah yang terdapat pada pembahasa ini adalah :
1.         Untuk mengetahui pemakaian dan kreativitas bahasa dalam berbahasa.
2.         Untuk mengetahui syarat-syarat dalam sistem tulis.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      BAHASA YANG BAIK
Dari sesuatu segi tertentu dapat dikatakan bahwa pembicaraan ini ialah tentang martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan martabat bahasa ialah tinggi atau rendahnya derajad bahasa di mata para pemakainya atau di mata orang asing, banyak atau sedikitnya rasa hormat yang diberikan orang terhadapnya.
Bahasa sering dikatakan mempunyai wibawa yang tinggi atau derajad yang rendah saja. Bagaikan sesuatu harta kekayaan bahasa itu sering dikatakan mempunyai nilai yang tinggi atau nilai yang rendah saja.
Melalui pengamatan terhadap pengalaman yang terjadi di banyak tempat, kemampuan bahasa sebagai alat komunikasilah yang amat penting. Artinya semakin besar kemampuan bahasa itu untuk menyampaikan segala macam cipta, rasa dan karsa yang ada di dalam masyarakat, semakin tinggi pulalah derajad bahasa itu. Semakin hebat keadaan register khusus sesuatu bahasa, semakin hebat pulalah martabat bahasa itu.
Bukan sekedar kekayaan atau variasi butir yang terdapat di dalam bahasa itu saja yang menentukan. Bukan sekedar banyaknya imbuhan atau tipe urutan kata di dalam tata kalimat sajalah yang menentukan. Yang menentukan ialah kemampuan bahasa itu untuk menyampaikan berbagai pesan. Memang untuk itu bahasa itu harus kaya. Kekayaan itu harus langsung menunjang kemampuan komunikasi yang diperlukannya.
Jadi kekayaan itu yang terpenting ialah pada macam register khususnya dan bukannya kepada dialeknya atau tingkat tutunrya. Dengan kata lain, yang terpenting bukanlah luas wilayahnya, jumlah penduduknya, atau kekompleksitasan tingkat tuturnya. Yang lebih penting ialah kemampua register khususnya di dalam menyampaikan beebagai-bagai pesan, baik yang tradisional maupun yang modern, baik yang berbau emosi, pikiran maupun kehendak.


Register khusus yang kaya ialah yang dapat dipakai untuk menyampaikan segala macam pesan dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bidang kebudayaan yang dianggap tinggi oleh masyarakat di berbagai negeri itu dapat berbeda-beda. Akan tetapi, segi-segi kebudayaan seperti agama, seni, ilmu, politik, dan peradilan biasanya dianggap tinggi. Jadi, kalau sesuatu bahasa dapat dipakai untuk menyampaikan hal-hal yang sifatnya religious, literer, ilmiah, politisi, dan judikatif, maka bahasa itu biasanya dianggap bermartabat tinggi.
Bahasa Melayu dulu dicemooh banyak orang, karena kemampuannya yang sangat terbatas. Bahkan hingga sekarang ini pun masih ada negarawan dan politisi yang tidak percaya bahwa Bahasa Melayu dapat dipakai untuk menyampaikan hal-hal yang bernilai. Bahasa Melayu dianggapnya tidak lebih dari bahasa pasaran. Lambat laun martabat bahasa ini naik setelah ternyata bahwa bahasa Melayu di Indonesia dapat dipakai untuk membahas berbagai ilmu pengetahuan dipakai untuk memuat berbagai undang-undang, dipakai sebagai bahasa pengantar berbagai pertemuan internasional, dan dipakai sebagai bahasa pengantar dalam komunikasi yang menggunakan berbagai peralatan modern.
Di Indonesia bahasa Indonesia sudah biasa dipakai sebagai sarana untuk menyombongkan diri. Orang-orang desa menggunakan bahasa Indonesia untuk menunjukkan bahwa dirinya telah terdidik. Di luar negeri, sekarang ini bahasa dan sastra Indonesia telah diajarkan di berbagai Universitas. Di dalam berbagai seminar internasional, pakar-pakar asing pun sudah merasa senang memakai bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasinya.

B.       PEMAKAIAN DAN KREATIVITAS
Kunci pembuka martabat bahasa ialah pada kemampuan. Agar mampu, bahasa ini paling sedikit harus dipakai. kalau tidak dipakai kemampuannya pun hilang. kalau bahasa itu dipakai diberbagai bidang, tarutama pada bidang-bidang kehidupan yang dinilai penting oleh para pemakainya, maka martabat bahasa itu pun akan naik. Sebaliknya, kalau bahasa itu tidak dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan dalam bidang-bidang kehidupan yang penting, maka martabatnya pun akan semakin turun.
Sebagai contoh, martabat bahasa-bahasa daerah di Indonesia sakarang ini semakin turun saja. Bahasa Jawa yang dulu dianggap mempunyai martabat yang lumayan  tinggi, sakarang ini semakin merosot terus.

 Rasa mementingkan bahasa ibu didaerah-daerah seperti Sunda, Batak, Bugis, Bali, Madura, dan didaerah lainnya di Indonesia sudah menurun. Salah satu sebabnya yang terbesar ialah adanya kenyataan bahwa bahasa-bahasa daerah itu sekarang banyak tidak lagi dipakai lagi. Dalam banyak kesempatan, bahasa Indonesia lah yang dipakai.
Bahasa Indonesia menjadi semakin mampu karena terpaksa dipakai diberbagai bidang, sebetulnya pertama-tama bahasa indonesia itu hanya dimaksudkan menjadi bahasa perantara bidang kehidupan seperti : politik, pemerintahan dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, sekarang ini keadaanya telah berkembang melebihi yang direncanakan. Bahasa Indonesia sudah mulai dipakai oleh banyak orang sebagai bahasa perantara dalam kehidupan keluarga. Karena hubungan antara orang dari berbagai daerah makin baik, perkawinan antar suku makin baik, kedudukan pemerintah sentral yang makin menarik, maka lama-kelamaan bahasa indonesia pun dipakai juga didalam segi kehidupan yang sifatnya akrab, tidak formal dan penuh rasa kekeluargaan.  Rasa canggungpun terjadi dimana-mana sehubungan dengan pemakaia bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tetapi kecanggungan –kecanggungan itu ternyata semakin lama semakin menjadi hilang. Apa yang mulanya canggung, lama kelamaan menjadi biasa. Praktek dan pemakaian menjadikan segala sesuatu menjadi biasa.
Memakai kata baru didalam sebuah kalimat sebetulnya menerapkan penggunaan kata itu dengan kreatif. Setiap pemakaian butir atau aturan untuk memenuhi kehendak yang tertentu, sebetulnya itu ialah tindakan yang kreatif. Kreatif dalam arti memanipulasi bentuk atau aturan itu untuk mengekspresikan maksud. Memilih butir yang tepat dalam konteks yang tepat untuk menyampaikan maksud yang tepat sebetulnya juga sudah



C.     SISTEM TULIS
Negara besar yang mempunyai undaang-undang yang mantap memerlukan sistem tulis. Negara yang berhasil menumbuhkan tradisi ilmu pengetahuan mesti mempunyai sistem tulis. Sistem tulis amat penting antara lain dalam menyediakan hal-hal yang kemudian dapat dipakai sebagai dasar untuk adanya kemajuan lebih lanjut. Disamping meletakkan bekal bagi kemajuan lebih lanjut, sistem tulis juga mempercepat proses pembakuan yang pada gilirannya diperlukan bagi adanya perkembangan. Bagaimana caranya sistem tulis itu mempercepat standarisasi diberbagai hal ? karena pada permulanya tidak semua orang dapat menulis, maka apa yang berhasil ditulis biasanya lalu dianggap dapat dipakai sebagai patokan. Apa yang sudah ditulis biasanya lalu menjadi tolak acuan. Bukankah karya-karya yang tertulis itu ialah hasil cemerlang dari pujangga atau orang-orang pandai? Karena karya besar yang tertulis itu ialah karya para pujangga, karya para sarjanah yang terkenal, maka segala sesuatunya lalu banyak ditaati oleh orang-orang yang membacanya.

D.    PEMBAKUAN
Adanya sistem tulis bisanya dibarengi dengan adanya standarisasi (pembakuan) dalam bahasa itu. Bersama dengan adanya sistem tulis, maka gramatika bahasa itu menjadi lebih mapan, ucapan kata dan bentuk idiom lebih pasti, dan berbagai format register menjadi baku.
Pertama, standarisasi itu diperlukan karena memudahkan pemahaman pesan dan pemakainya. Kedua, standarisasi diperlukan agar bahasa dapat dipkai oleh anggota masyarakat dari berbagai daerah, dari berbagai golongan dan dari berbagai tingkat.
Pembakuan itu memudahkan cara mengingat dan cara untuk berkreasi. Kalau sesuatu itu ada standarnya, maka sesuatu itu bersifat tetap, ajeg, konstan, tidak mudah berubah.
Melalui butiran dan aturan yang ajeg, rangkaian kalimat baru mudah dijalankan. Karenanya, semakin banyaklah orang yang menyenangi hal-hal yang ada standarnya. Apabila orang mampu memahami butir dan aturan yang konstan itu, maka orangpun akan dapat berkomunikasi dengan orang lain yang mengindahkan standar itu.


Segala sesuatu yang bernilai tinggi, seperti wahyu Allah, do’a dan mantra, ilmu yang berwibawa, dan sebagainya semua ditulis di dalam kitab yang bukan saja menggunakan standar-standar itu, tetapi bahkan menjadi pangkal sumber pembakuan itu sendiri.
Sebagai contoh, ragam tutur formal biasanya lebih dihormati oleh orang dari pada ragam informal. Karena ragam tutur formal mempunyai standar. Didalamnya terdapat cirri yang memudahkan datangnya kejelasan. Ragam formal itu memuat kom penen-kompenen secara lengkap. Karena adanya sifat lengkap dan adanya sifat yang mudah untuk mendatangkan kejelasan ini, maka sebagai akibatnya ragam formal itu dapat dipakai unukmengkomunikasikan hal-hal yang penting seperti ilmu pengetahuan, undang-undang, dan sebagainya. Ragam tutur informal biasanya berlainan bentuknya dari daerah yang satu kedaerah yang lain, sedangkan yang formal dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ragam tutur formal mempunyai stanadarnya yang mantap. Ragam tutur formal disajikan didalam tuturan yang menggunakan tata kalimat yang standar. Dari sudut kelengkapanya pun ada ketentuan yang tidak boleh dilanggar. Pemakaian tutur yang didasarkan oleh gejolak hati yang impulsif pun juga tidak dibenarkan. Kalu ditulis sajianya pun harus mengikuti aturan yang dianggap benar.
Pembakuan system tulis dan system ucapan diperlukan disemua tingkat. Pembakuan juga harus diindahkan di tingkat kebahasaan yang lain. Tata kalimat harus baku. Jadi, sesuatu bahasa yang akan dipakai untuk menyampaikan ayat-ayat suci dan penemuan ilmu seharunylah mempunyai aturan-aturan tata aturan kalimat yang ketat. Bukan saja urutan kata didalam kalimat, bahkan didalam berbagai frase pun harus stabil. Bahkan, sampai dengan bentuk imbuhan-imbuhan pun harus mantap.



E.       KAYA
Kaya dalam perbendaharaan kata dan idiomnya, kaya dalam register, dan kaya dalam ciptaan-ciptaanya. Kekayaan itu memudahkan si pemilik untuk memenuhi keinginanynya. Misalnya, untuk melukiskan gagasan baru tentang bagaimana terbang ke luar angkasa, dengan roket, dengan bahan bakar, dengan terbang, dengan mendarat, dengan kegagalan dan keberhasilan, dan sebagainya.
Kekayaan yang sebetulnya segera mendatangkan rasa hormat dari kebanyakan orang ialah kekayaan didalam karyanya, baik karya dibidang sastra maupun dibidang yang lain-lain. Barang kali untuk kebanyakan bangsa sekarang ini, kekayaan dibidang ilmu pengetahuan lebih diutamakan dari pada sastra.

F.       JUMLAH PENUTUR
Jumlah penutur yang banyak dapat berarti adanya pembakuan yang baik. Hal ini tidak selalu begitu. Akan tetapi, kalau memang bahasa itu memang memakai bahasanya sendiri didalam berbagai keperluanya, pembakua itu semestinya ada.
Penutur yang besar dapat juga berarti adanya kreatifitas yang besar. Di dalam masyarakat dengan jumlah anggota yang besar, interaksi dapat terjadi dengan mudah, berbagai spesialisasi juga mudah, keperluan juga dapat semakin bermacam ragam.
Dalam hal jumlah penutur ini, sebetulnya hal yang sebaliknya justru sering terjadi. Bahasa yang mempunyai martabat tinggi justru lalu disenagi oleh orang banyak. Bahasa yang mempunyai martabat tinggi justru lalu dipakai orang banyak. Bahkan orang asing pun suka memakainya. Bahasa inggris yang semulanya sebetulnya hanya milik orang inggris dan sekitarnya saja, sekarang ini dipakai oleh orang yang banyak sekali, Bahasa yang Inggris yang mempunyai martabat tinggi itu sekarang dipakai oleh berjuta-juta orang yang tersebar diberbagai penjuru dunia.


BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
Pengkajian bahasa baik, dari segi tertentu dapatlah dikatakan bahwa pembicaraan ini ialah tentang martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan martabat bahasa adalah tinggi atau rendahnya derajad bahasa dimata para pemakainya atau dimata orang asing. Pemakaian dan kreatifitas, kalau tidak dipakai kemampuannya pun hilang. Kalau bahasa itu dipakai diberbagai bidang, terutama pada bidang-bidang kehidupan yang dinilai penting oleh para pemakainya, maka martabat bahasa itu pun akan naik, sebaliknya kalau bahasa itu tidak dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan dalam bidang-bidang kehidupan yang penting maka martabatnya akan semakin turun.
Peradaban bahasa, bangsa yang maju berati telah menguasai berbagai segi ilmu dan tehnologi berbagai cara untuk mengatur masyarakatnya, berbagai tehknik untuk memenuhi keperluannya. System tulis, semua bahasa didunia yang berderajad tinggi mempunyai system tuli. Pembakuan, adanya system tulis biasanya dibarengi dengan adanya standarisasi ( pembakuan) dalam bahasa itu. Kaya, kaya dalam perbendaharaan kata dan idiomnya, kaya dalam register, dan kaya dalam cipta-ciptaanya. Jumlah penutur, Penutur yang besar dapat juga berarti adanya kreatifitas yang besar. Di dalam masyarakat dengan jumlah anggota yang besar, interaksi dapat terjadi dengan mudah, berbagai spesialisasi juga mudah, keperluan juga dapat semakin bermacam ragam.

B.       SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kita dapat mengetahui seperti apa Pengkajian Bahasa yang Baik.


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa                                                                        
Poedjosoedarmo, Soepomo. 2003. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah University Press.