FILSAFAT BAHASA
PENGKAJIAN BAHASA YANG BAIK
DOSEN PENGAMPU :
NORMASUNAH, S.Pd
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1. IIN NURSANTI NIM
2012.12.0926
2. IRMA JULAEHA NIM 2012.12.0924
3. JAMI RAHAYU NIM
2012.12.0919
4. KAMARULLAH NIM 2012.12.0913
5. MAYASARI NIM 2012.12.0923
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PARIS BARANTAI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
KOTABARU
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Filsafat Bahasa adalah
ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai
kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat
bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat
bahasa sehari-hari.
Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh
para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan
konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual
knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa.
Di dalam bab ini akan dibahas persoalan
menyangkut kemampuan bahasa. Dari sesuatu segi tertentu dapat dikatakan bahwa
pembicaraan ini ialah tentang martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan
martabat bahasa ialah tinggi atau rendahnya derajad bahasa di mata para
pemakainya atau di mata orang asing, banyak atau sedikitnya rasa hormat yang
diberikan orang terhadapnya.
Bagaikan seorang manusia, bahasa itu
sering dikatakan mempunyai wibawa yang tinggi atau derajad yang rendah saja.
Bagaikan sesuatu harta kekayaan bahasa itu sering dikatakan mempunyai nilai yag
tinggi atau nilai yang rendah saja.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah yang terdapat dalam pembahasan
ini adalah :
1. Apa
yang dimaksud dengan kaya dalam system tulis?
2. Dimana
saja tingkat pembakuan pada system tulis dan ucapan itu diperlukan?
C.
TUJUAN
MASALAH
Adapun tujuan masalah yang terdapat pada pembahasa
ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pemakaian dan kreativitas
bahasa dalam berbahasa.
2.
Untuk mengetahui syarat-syarat dalam
sistem tulis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
BAHASA
YANG BAIK
Dari
sesuatu segi tertentu dapat dikatakan bahwa pembicaraan ini ialah tentang
martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan martabat bahasa ialah tinggi atau
rendahnya derajad bahasa di mata para pemakainya atau di mata orang asing,
banyak atau sedikitnya rasa hormat yang diberikan orang terhadapnya.
Bahasa
sering dikatakan mempunyai wibawa yang tinggi atau derajad yang rendah saja. Bagaikan
sesuatu harta kekayaan bahasa itu sering dikatakan mempunyai nilai yang tinggi
atau nilai yang rendah saja.
Melalui
pengamatan terhadap pengalaman yang terjadi di banyak tempat, kemampuan bahasa
sebagai alat komunikasilah yang amat penting. Artinya semakin besar kemampuan
bahasa itu untuk menyampaikan segala macam cipta, rasa dan karsa yang ada di
dalam masyarakat, semakin tinggi pulalah derajad bahasa itu. Semakin hebat
keadaan register khusus sesuatu bahasa, semakin hebat pulalah martabat bahasa
itu.
Bukan
sekedar kekayaan atau variasi butir yang terdapat di dalam bahasa itu saja yang
menentukan. Bukan sekedar banyaknya imbuhan atau tipe urutan kata di dalam tata
kalimat sajalah yang menentukan. Yang menentukan ialah kemampuan bahasa itu
untuk menyampaikan berbagai pesan. Memang untuk itu bahasa itu harus kaya.
Kekayaan itu harus langsung menunjang kemampuan komunikasi yang diperlukannya.
Jadi
kekayaan itu yang terpenting ialah pada macam register khususnya dan bukannya
kepada dialeknya atau tingkat tutunrya. Dengan kata lain, yang terpenting
bukanlah luas wilayahnya, jumlah penduduknya, atau kekompleksitasan tingkat
tuturnya. Yang lebih penting ialah kemampua register khususnya di dalam
menyampaikan beebagai-bagai pesan, baik yang tradisional maupun yang modern,
baik yang berbau emosi, pikiran maupun kehendak.
Register
khusus yang kaya ialah yang dapat dipakai untuk menyampaikan segala macam pesan
dalam berbagai bidang kehidupan, terutama bidang kebudayaan yang dianggap
tinggi oleh masyarakat di berbagai negeri itu dapat berbeda-beda. Akan tetapi,
segi-segi kebudayaan seperti agama, seni, ilmu, politik, dan peradilan biasanya
dianggap tinggi. Jadi, kalau sesuatu bahasa dapat dipakai untuk menyampaikan
hal-hal yang sifatnya religious, literer, ilmiah, politisi, dan judikatif, maka
bahasa itu biasanya dianggap bermartabat tinggi.
Bahasa
Melayu dulu dicemooh banyak orang, karena kemampuannya yang sangat terbatas.
Bahkan hingga sekarang ini pun masih ada negarawan dan politisi yang tidak
percaya bahwa Bahasa Melayu dapat dipakai untuk menyampaikan hal-hal yang
bernilai. Bahasa Melayu dianggapnya tidak lebih dari bahasa pasaran. Lambat
laun martabat bahasa ini naik setelah ternyata bahwa bahasa Melayu di Indonesia
dapat dipakai untuk membahas berbagai ilmu pengetahuan dipakai untuk memuat
berbagai undang-undang, dipakai sebagai bahasa pengantar berbagai pertemuan
internasional, dan dipakai sebagai bahasa pengantar dalam komunikasi yang
menggunakan berbagai peralatan modern.
Di
Indonesia bahasa Indonesia sudah biasa dipakai sebagai sarana untuk
menyombongkan diri. Orang-orang desa menggunakan bahasa Indonesia untuk
menunjukkan bahwa dirinya telah terdidik. Di luar negeri, sekarang ini bahasa
dan sastra Indonesia telah diajarkan di berbagai Universitas. Di dalam berbagai
seminar internasional, pakar-pakar asing pun sudah merasa senang memakai bahasa
Indonesia sebagai sarana komunikasinya.
B.
PEMAKAIAN
DAN KREATIVITAS
Kunci pembuka
martabat bahasa ialah pada kemampuan. Agar mampu, bahasa ini paling sedikit
harus dipakai. kalau tidak dipakai kemampuannya pun hilang. kalau bahasa itu
dipakai diberbagai bidang, tarutama pada bidang-bidang kehidupan yang dinilai
penting oleh para pemakainya, maka martabat bahasa itu pun akan naik.
Sebaliknya, kalau bahasa itu tidak dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan dalam
bidang-bidang kehidupan yang penting, maka martabatnya pun akan semakin turun.
Sebagai contoh,
martabat bahasa-bahasa daerah di Indonesia sakarang ini semakin turun saja.
Bahasa Jawa yang dulu dianggap mempunyai martabat yang lumayan tinggi, sakarang ini semakin merosot terus.
Rasa mementingkan bahasa ibu didaerah-daerah
seperti Sunda, Batak, Bugis, Bali, Madura, dan didaerah lainnya di Indonesia
sudah menurun. Salah satu sebabnya yang terbesar ialah adanya kenyataan bahwa
bahasa-bahasa daerah itu sekarang banyak tidak lagi dipakai lagi. Dalam banyak
kesempatan, bahasa Indonesia lah yang dipakai.
Bahasa Indonesia
menjadi semakin mampu karena terpaksa dipakai diberbagai bidang, sebetulnya
pertama-tama bahasa indonesia itu hanya dimaksudkan menjadi bahasa perantara
bidang kehidupan seperti : politik, pemerintahan dan ilmu pengetahuan. Akan
tetapi, sekarang ini keadaanya telah berkembang melebihi yang direncanakan.
Bahasa Indonesia sudah mulai dipakai oleh banyak orang sebagai bahasa perantara
dalam kehidupan keluarga. Karena hubungan antara orang dari berbagai daerah
makin baik, perkawinan antar suku makin baik, kedudukan pemerintah sentral yang
makin menarik, maka lama-kelamaan bahasa indonesia pun dipakai juga didalam
segi kehidupan yang sifatnya akrab, tidak formal dan penuh rasa
kekeluargaan. Rasa canggungpun terjadi
dimana-mana sehubungan dengan pemakaia bahasa Indonesia sebagai bahasa
nasional, tetapi kecanggungan –kecanggungan itu ternyata semakin lama semakin
menjadi hilang. Apa yang mulanya canggung, lama kelamaan menjadi biasa. Praktek
dan pemakaian menjadikan segala sesuatu menjadi biasa.
Memakai kata
baru didalam sebuah kalimat sebetulnya menerapkan penggunaan kata itu dengan
kreatif. Setiap pemakaian butir atau aturan untuk memenuhi kehendak yang
tertentu, sebetulnya itu ialah tindakan yang kreatif. Kreatif dalam arti
memanipulasi bentuk atau aturan itu untuk mengekspresikan maksud. Memilih butir
yang tepat dalam konteks yang tepat untuk menyampaikan maksud yang tepat
sebetulnya juga sudah
C.
SISTEM TULIS
Negara besar
yang mempunyai undaang-undang yang mantap memerlukan sistem tulis. Negara yang
berhasil menumbuhkan tradisi ilmu pengetahuan mesti mempunyai sistem tulis.
Sistem tulis amat penting antara lain dalam menyediakan hal-hal yang kemudian
dapat dipakai sebagai dasar untuk adanya kemajuan lebih lanjut. Disamping
meletakkan bekal bagi kemajuan lebih lanjut, sistem tulis juga mempercepat
proses pembakuan yang pada gilirannya diperlukan bagi adanya perkembangan.
Bagaimana caranya sistem tulis itu mempercepat standarisasi diberbagai hal ?
karena pada permulanya tidak semua orang dapat menulis, maka apa yang berhasil
ditulis biasanya lalu dianggap dapat dipakai sebagai patokan. Apa yang sudah
ditulis biasanya lalu menjadi tolak acuan. Bukankah karya-karya yang tertulis
itu ialah hasil cemerlang dari pujangga atau orang-orang pandai? Karena karya
besar yang tertulis itu ialah karya para pujangga, karya para sarjanah yang
terkenal, maka segala sesuatunya lalu banyak ditaati oleh orang-orang yang
membacanya.
D.
PEMBAKUAN
Adanya sistem
tulis bisanya dibarengi dengan adanya standarisasi (pembakuan) dalam bahasa
itu. Bersama dengan adanya sistem tulis, maka gramatika bahasa itu menjadi
lebih mapan, ucapan kata dan bentuk idiom lebih pasti, dan berbagai format
register menjadi baku.
Pertama,
standarisasi
itu diperlukan karena memudahkan pemahaman pesan dan pemakainya. Kedua, standarisasi diperlukan agar
bahasa dapat dipkai oleh anggota masyarakat dari berbagai daerah, dari berbagai
golongan dan dari berbagai tingkat.
Pembakuan itu
memudahkan cara mengingat dan cara untuk berkreasi. Kalau sesuatu itu ada
standarnya, maka sesuatu itu bersifat tetap, ajeg, konstan, tidak mudah
berubah.
Melalui butiran
dan aturan yang ajeg, rangkaian kalimat baru mudah dijalankan. Karenanya,
semakin banyaklah orang yang menyenangi hal-hal yang ada standarnya. Apabila
orang mampu memahami butir dan aturan yang konstan itu, maka orangpun akan
dapat berkomunikasi dengan orang lain yang mengindahkan standar itu.
Segala sesuatu
yang bernilai tinggi, seperti wahyu Allah, do’a dan mantra, ilmu yang
berwibawa, dan sebagainya semua ditulis di dalam kitab yang bukan saja
menggunakan standar-standar itu, tetapi bahkan menjadi pangkal sumber pembakuan
itu sendiri.
Sebagai contoh, ragam tutur formal biasanya
lebih dihormati oleh orang dari pada ragam informal. Karena ragam tutur formal
mempunyai standar. Didalamnya terdapat cirri yang memudahkan datangnya
kejelasan. Ragam formal itu memuat kom penen-kompenen secara lengkap. Karena
adanya sifat lengkap dan adanya sifat yang mudah untuk mendatangkan kejelasan
ini, maka sebagai akibatnya ragam formal itu dapat dipakai
unukmengkomunikasikan hal-hal yang penting seperti ilmu pengetahuan,
undang-undang, dan sebagainya. Ragam tutur informal biasanya berlainan
bentuknya dari daerah yang satu kedaerah yang lain, sedangkan yang formal
dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat.
Ragam tutur formal mempunyai stanadarnya
yang mantap. Ragam tutur formal disajikan didalam tuturan yang menggunakan tata
kalimat yang standar. Dari sudut kelengkapanya pun ada ketentuan yang tidak
boleh dilanggar. Pemakaian tutur yang didasarkan oleh gejolak hati yang
impulsif pun juga tidak dibenarkan. Kalu ditulis sajianya pun harus mengikuti
aturan yang dianggap benar.
Pembakuan system tulis dan system ucapan
diperlukan disemua tingkat. Pembakuan juga harus diindahkan di tingkat
kebahasaan yang lain. Tata kalimat harus baku. Jadi, sesuatu bahasa yang akan
dipakai untuk menyampaikan ayat-ayat suci dan penemuan ilmu seharunylah
mempunyai aturan-aturan tata aturan kalimat yang ketat. Bukan saja urutan kata
didalam kalimat, bahkan didalam berbagai frase pun harus stabil. Bahkan, sampai
dengan bentuk imbuhan-imbuhan pun harus mantap.
E.
KAYA
Kaya dalam perbendaharaan kata dan
idiomnya, kaya dalam register, dan kaya dalam ciptaan-ciptaanya. Kekayaan itu
memudahkan si pemilik untuk memenuhi keinginanynya. Misalnya, untuk melukiskan
gagasan baru tentang bagaimana terbang ke luar angkasa, dengan roket, dengan
bahan bakar, dengan terbang, dengan mendarat, dengan kegagalan dan
keberhasilan, dan sebagainya.
Kekayaan yang sebetulnya segera
mendatangkan rasa hormat dari kebanyakan orang ialah kekayaan didalam karyanya,
baik karya dibidang sastra maupun dibidang yang lain-lain. Barang kali untuk
kebanyakan bangsa sekarang ini, kekayaan dibidang ilmu pengetahuan lebih
diutamakan dari pada sastra.
F.
JUMLAH
PENUTUR
Jumlah penutur yang banyak dapat berarti
adanya pembakuan yang baik. Hal ini tidak selalu begitu. Akan tetapi, kalau
memang bahasa itu memang memakai bahasanya sendiri didalam berbagai
keperluanya, pembakua itu semestinya ada.
Penutur yang besar dapat juga berarti
adanya kreatifitas yang besar. Di dalam masyarakat dengan jumlah anggota yang
besar, interaksi dapat terjadi dengan mudah, berbagai spesialisasi juga mudah,
keperluan juga dapat semakin bermacam ragam.
Dalam hal jumlah penutur ini, sebetulnya
hal yang sebaliknya justru sering terjadi. Bahasa yang mempunyai martabat
tinggi justru lalu disenagi oleh orang banyak. Bahasa yang mempunyai martabat tinggi
justru lalu dipakai orang banyak. Bahkan orang asing pun suka memakainya.
Bahasa inggris yang semulanya sebetulnya hanya milik orang inggris dan
sekitarnya saja, sekarang ini dipakai oleh orang yang banyak sekali, Bahasa
yang Inggris yang mempunyai martabat tinggi itu sekarang dipakai oleh
berjuta-juta orang yang tersebar diberbagai penjuru dunia.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Pengkajian
bahasa baik, dari segi tertentu dapatlah dikatakan bahwa pembicaraan ini ialah
tentang martabat bahasa. Adapun yang dimaksud dengan martabat bahasa adalah
tinggi atau rendahnya derajad bahasa dimata para pemakainya atau dimata orang
asing. Pemakaian dan kreatifitas, kalau tidak dipakai kemampuannya pun hilang.
Kalau bahasa itu dipakai diberbagai bidang, terutama pada bidang-bidang
kehidupan yang dinilai penting oleh para pemakainya, maka martabat bahasa itu
pun akan naik, sebaliknya kalau bahasa itu tidak dipakai untuk menyampaikan
pesan-pesan dalam bidang-bidang kehidupan yang penting maka martabatnya akan
semakin turun.
Peradaban
bahasa, bangsa yang maju berati telah menguasai berbagai segi ilmu dan
tehnologi berbagai cara untuk mengatur masyarakatnya, berbagai tehknik untuk
memenuhi keperluannya. System tulis, semua bahasa didunia yang berderajad
tinggi mempunyai system tuli. Pembakuan, adanya system tulis biasanya dibarengi
dengan adanya standarisasi ( pembakuan) dalam bahasa itu. Kaya, kaya dalam
perbendaharaan kata dan idiomnya, kaya dalam register, dan kaya dalam
cipta-ciptaanya. Jumlah penutur, Penutur yang besar dapat juga berarti adanya
kreatifitas yang besar. Di dalam masyarakat dengan jumlah anggota yang besar,
interaksi dapat terjadi dengan mudah, berbagai spesialisasi juga mudah,
keperluan juga dapat semakin bermacam ragam.
B.
SARAN
Dengan adanya makalah
ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk kita dapat mengetahui seperti apa
Pengkajian Bahasa yang Baik.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_bahasa
Poedjosoedarmo, Soepomo. 2003. Filsafat Bahasa. Surakarta: Muhammadiyah
University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar